Hari ini aku janji bertemu dengan Eva, seorang gadis yang kukenal didalam biskota 4 tahun yang lalu. Dulu, diawal perkenalan, aku sempat main ke rumahnya sekali. Saat itu aku mulai menaruh hati padanya. Aku tipikal orang yang mudah suka kepada orang lain yang punya banyak kesamaan denganku. Eva, dari yang aku lihat, ia tipe gadis yang enak diajak bicara apa saja, pengetahuannya cukup luas, supel dan sepertinya penuh pengertian. Dari kesan pertama yang ditampilkannya itulah aku mulai jatuh cinta padanya.
Kunjungan pertamaku ke rumahnya di sambut dengan baik sekali layaknya teman lama. Ia banyak bercerita tentang masa-masa sekolahnya yang ternyata sekolahnya dulu letaknya tidak jauh dari rumahku. Ia juga mulai terbuka secara pribadi. Dibawanya aku menyelami kehidupan keluarganya. Bagaimana keadaan ayahnya yang sakit sakitan dan ibunya yang mati-matian membiayai kuliahnya dengan membuka warung nasi didepan rumah. Ia juga tidak tinggal diam, sepulang kuliah, ia langsung mengajar les privat anak-anak sekitar kompleks perumahannya.
Beberapa hari tak bertemu, aku mulai kangen. Kangen dengan tawa renyahnya dan senyum manisnya. aku lalu meneleponnya untuk memastikan keberadaannya di rumah.
“Hallo, bisa bicara dengan Eva,”
“Iya, saya sendiri, ini siapa ya ?”
“Ini Baron, Va. Mmh…sore ini lo ada di rumah kan? Gue ke rumah lo ya ?”
“Iya, boleh. Gue tunggu ya, kebetulan ada yang mao gue ceritain ke elo,”
“Oke, C.U,”
Sesampainya disana aku melihat pemandangan yang mengharukan. Eva berjalan tertatih dibantu ibunya. Kakinya dibalut perban mulai dari pergelangan sampai ruas jari kaki.
Ia nampak meringis kesakitan tapi di hadapanku ia berusaha tersenyum meski kelihatan aneh. Nyumngis. Senyum sambil meringis.
“Eva keserempet mobil kemaren siang waktu lagi nyebrang di depan pasar,” papar ibunya mendahului pertanyaanku.
“Untungnya yang nabrak nggak lari. Dia mo tanggung jawab. Dia biayain semua pengobatan Eva sampe operasinya,”
Syukurlah. Ternyata tidak separah dugaanku. Meski terkena musibah, ibunya masih bisa berkata beruntung karena yang menabrak tidak lari. Tapi… kalau dipikir-pikir, betul juga apa yang di katakan ibunya. Coba kalau yang menabrak kabur, pasti Eva akan sedih dan menambah beban hidup keluarga dengan membiayai pengobatannya.
“Duduk dulu, nak Baron. Ibu mo ke dalem dulu ambil minuman,”
“Aduh, nggak usah repot-repot, bu. Saya nggak lama kok, kebetulan ada tugas kuliah yang belum diselesaikan. Lagi pula Eva kan perlu banyak istirahat, biar cepat sembuh,” ucapku berkilah. Sebenarnya aku ingin berlama-lama disana. Membincangkan banyak hal sambil menatap keindahan wajahnya yang selalu dihiasi senyum manis itu. Tapi sore itu tidak mungkin ! aku tak tega melihat kondisinya, apa lagi harus berlama-lama bicara, yang ada justru aku akan menambah sakitnya makin parah. Ia hanya perlu istirahat. Membiarkan obat bekerja menyembuhkannya adalah pilihan bijak dibanding kalau aku tetap bertahan di rumahnya. Yang ada justru ia akan merasa terganggu dengan kehadiranku.
“Va, gue pulang dulu, besok gue kesini lagi. Lo istirahat ya, biar cepat sembuh,” Ia tidak menjawab, hanya mengangguk sambil menatapku dalam-dalam. Kali ini tidak ada senyuman yang menghantarkanku sampai ke pintu gerbang rumahnya. Aku maklum, ini bukan saat yang tepat untuk mengharapkan yang satu itu.
Hari-hari berikutnya aku disibukkan dengan tugas kuliah yang makin menumpuk. Aku harus menyelesaikannya secara berkelompok untuk memudahkan penyelesaian. Seperti biasa aku selalu melibatkan Doni, Wanti, Tedjo dan Siska untuk bersama-sama mengerjakannya. Mereka adalah teman-teman dekatku. Kebersamaan kami selama dua tahun terbukti selalu berhasil menyelesaikan setiap tugas perkuliahan dengan baik.
Namun disinilah awal masalahnya. Karena banyaknya tugas, aku jadi lupa dengan Eva, dengan janjiku yang ingin datang kembali menjenguknya. Aku mencoba menghubunginya namun ia selalu tidak ada. Menurut ibunya, ia sudah masuk kuliah. Ia memaksakan diri kuliah karena sedang ada pekan ulangan. Ia tidak mau mengulang karena menurutnya akan menambah biaya yang makin besar. Ia berniat ingin menyelesaikan kuliah secepatnya. Maka itulah, meski sakit, ia masih tetap kuliah.
Hari-hari berikutnya pun aku kembali mencoba menghubunginya lagi. Namun tetap sama, ia tidak ada di rumah. Padahal aku menghubunginya sore hari. Aku menghubunginya saat itu karena aku yakin ia sudah ada dirumah. Tapi ternyata tidak. Adiknya mengatakan kalau Eva sedang tidak ada di rumah. Tidak ada penjelasan ia pergi kemana. Disini aku mulai curiga, jangan-jangan ia sudah tidak mau menemuiku lagi. Tapi apa masalahnya, perasaan aku tidak pernah berbuat salah sama Eva.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ya…waktu itu saat aku ingin ke rumahnya Eva sempat mengatakan ada yang mau disampaikannya kepadaku tapi karena waktu itu ia sedang sakit,aku jadi lupa menanyakannya.
“Pantes….waktu itu dia natap gue kayak gitu. Kayak ada yang diarepin dari gue. Dasar bego ! kok bisa-bisanya gue nggak peka ama isyarat Eva ke gue ya? Aduh..Va, maapin gue. Gue bener-bener lupa kalo hari itu ada yang mo elo omongin ke gue. Kalo gitu gue harus ke rumah lo sekarang !”
Sesampai di rumahnya, ternyata ia tidak ada. pergi ke rumah bibinya, kata ibunya.
“Maaf, bu. Saya boleh nanya sesuatu, bu ?” ibunya hanya mengangguk.
“Eva pernah omong sesuatu tentang saya nggak, bu. Soalnya saya ngerasa susah banget ketemu dia. Sepertinya Eva menghindar dari saya. Mudah-mudahan dugaan saya salah, bu.”
Ibunya terdiam sejenak sambil menatapku dalam-dalam.
“Eva itu anaknya tertutup. Meski terlihat ceria, itu hanya untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Ibu juga minta maaf, sebenarnya Eva ada didalam tapi dia nggak mau nemuin kamu. Ibu juga nggak tau masalahnya apa sebab Eva nggak pernah mau cerita. Ibu harap kamu bisa ngerti, nak Baron. “
“Iya, bu. Kalo begitu saya langsung mohon pamit. Sampaikan maaf saya ke Eva dan bilang saya nggak akan ganggu dia lagi, permisi, bu .”
Tu bi kontinyu.....
Jumat, 23 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar